aldylo

Just another WordPress.com site

Ergonomi dan anthropometri

Aspek-aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun fasilitas kerja adalah merupakan suatu faktor penting dalam menunjang peningkatan pelayanan jasa produksi. Terutama dalam hal perancangan ruang dan fasilitasnya.
Perlunya memperhatikan faktor ergonomi dalam proses rancang bangun fasilitas sekolah sekarang ini merupakan sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi. Hal tersebut tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai ukuran anthropometri tubuh maupun penerapan data-data anthropometrinya. Anthropometri menurut Stevenson (1989) dan
Nurmianto (1991) adalah kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain. Lebih lanjut Stevenson (1989) dan Nurmianto (1991), menjelaskan bahwa perbedaan data anthropometri suatu populasi dengan populasi lain sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: keacakan atau random, jenis kelamin, suku bangsa, usia, jenis pekerjaaan, pakaian, faktor kehamilan, dan cacat tubuh secara fisik.
Anthropometri ialah persyaratan agar dicapai rancangan yang layak dan berkaitan dengan dimensi tubuh manusia, yang meliputi:
a. Keadaan, frekuensi dan kesulitan dari tugas pekerjaan berkaitan dengan operasional dari peralatan.
b. Sikap badan selama tugas-tugas berlangsung
c. Syarat-syarat untuk kemudahan bergerak yang ditimbulkan oleh tugas-tugas tersebut.
d. Penambahan dalam dimensi-dimensi kritis dari desain yang ditimbulkan akibat kebutuhan untuk mengatasi           rintangan, keamanan dan lainnya.

Penerapan data anthropometri ini akan dilakukan jika tersedia nilai mean (rata-rata) SD (standard deviasi)-nya dari suatu distribusi normal. Adapun distribusi normal ditandai dengan adanya nilai mean (rata-rata) dan SD (standard deviasi). Sedangkan percentil adalah suatu nilai yang menyatakan bahwa persentase tertentu dari sekelompok orang yang dimensinya sama dengan atau lebih rendah dari nilai tersebut. Misalnya: 95% populasi adalah sama dengan
atau lebih rendah dari 95 percentil; 5% dari populasi berada sama dengan atau lebih rendah dari 5 percentil. Besarnya nilai percentil dapat ditentukan dari tabel probabilitas distribusi normal. Sebelum membahas lebih jauh mengenai
penggunaan data anthropometri ini, maka sering dikenal istilah “The Fallacy of the Average Man or Average Woman” yaitu istilah untuk mengatakan bahwa merupakan suatu kesalahan dalam perancangan suatu tempat kerja ataupun produk jika berdasar pada dimensi hipotesis yang menganggap bahwa semua dimensi adalah rata-rata. Walaupun
hanya dalam penggunaan satu dimensi saja, seperti misalnya jangkauan ke depan (forward reach), maka penggunaan rata-rata (50 percentil) dalam penyesuaian pemasangan suatu alat kontrol akan menghasilkan 50 % populasi akan tidak mampu menjangkauanya. Selain dari itu, jika seseorang mempunyai dimensi pada rata-rata populasi, katakanlah tinggi
badan, maka belum tentu, bahwa dia berada pada rata-rata populasi untuk dimensi lainnya.

PENDEKATAN DALAM PERANCANGAN KURSI

Duduk memerlukan lebih sedikit tenaga dari pada berdiri, karena hal itu dapat mengurangi banyaknya beban otot statis pada kaki. Seseorang yang bekerja sambil duduk memerlukan sedikit istirahat dan secara potensial lebih produktif. Namun sikap duduk yang keliru akan merupakan penyebab adanya masalah- masalah punggung, sebab tekanan pada bagian tulang belakang akan meningkat pada saat duduk, dibandingkan dengan saat berdiri ataupun berbaring. Perancangan kursi kerja harus dikaitkan dengan jenis pekerjaan, postur yang diakibatkan, gaya yang dibutuhkan, arah visual (pandangan mata), dan kebutuhan akan perlunya mengubah posisi (postur). Kursi tersebut haruslah terintegrasi dengan bangku atau meja yang sering dipakai. Kursi untuk kerja dengan posisi duduk adalah dirancang dengan metoda ‘floor-up’ yaitu dengan berawal pada permukaan lantai, untuk menghindari adanya tekanan di bawah paha. Sebaiknya tidak memasang pijakan kaki (foot-rest) yang juga akan menggangu ruang kerja kaki dan mengurangi fleksibilitas postur atau posisi. Setelah ketinggian kursi didapat kemudian barulah menentukan ketinggian meja kerja yang sesuai dan konsisten dengan ruang yang diperlukan untuk paha dan lutut. Jika meja dirancang untuk tetap (tidak dapat dinaik-turunkan), maka perancanan kursi hendaklah dapat dinaik turunkan sesuai dengan ketinggian meja, sehingga perlu adanya pijakan kaki (foot-rest). Menurut Nurmianto, (1998) dalam sistem pengembangan produk kursi, terdapat beberapa kriteria yang harus diperhatikan, antara lain:

1)stabilitas produk

2) kekuatan produk

3) mudah dinaik-turunkan

4) sandaran punggung dirancang agar dapat digerakkan naik-turun maupun maju mundur
5) bahan material cukup lunak

6) kedalaman kursi sesuai dengan dimensi panjang antara lipatan lutut (popliteal) dan pantat (buttock)

7) lebar kursi minimal sama dengan lebar pinggul wanita 5 percentil populasi

8 ) lebar sandaran punggung sama dengan lebar punggung wanita 5 percentil populasi

9) bangku tinggi harus diberi pijakan kaki yang dapat digerakkan naik-turun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: