aldylo

Just another WordPress.com site

BAB 2.2

4.1 Ergonomi

4.1.1  Pengertian Ergonomi

Ergonomi adalah ilmu yang menemukan dan mengumpulkan informasi tentang tingkah laku, kemampuan, keterbatasan, dan karakteristik manusia untuk perancangan mesin, peralatan, sistem kerja, dan lingkungan yang produktif, aman, nyaman dan efektif bagi manusia. Ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat manusia, kemampuan manusia dan keterbatasannya untuk merancang suatu sistem kerja yang baik agar tujuan dapat dicapai dengan efektif, aman dan nyaman (Sutalaksana, 1979). Fokus utama pertimbangan ergonomi menurut Cormick dan Sanders (1992) adalah mempertimbangkan unsur manusia dalam perancangan objek, prosedur kerja dan lingkungan kerja. Sedangkan metode pendekatannya adalah dengan mempelajari hubungan manusia, pekerjaan dan fasilitas pendukungnya, dengan harapan dapat sedini mungkin mencegah kelelahan yang terjadi akibat sikap atau posisi kerja yang keliru.

Untuk itu, dibutuhkan adanya data pendukung seperti ukuran bagian-bagian tubuh yang memiliki relevansi dengan tuntutan aktivitas, dikaitkan dengan profil tubuh manusia, baik orang dewasa, anak-anak atau orang tua, laki-laki dan perempuan, utuh atau cacad tubuh, gemuk atau kurus. Jadi, karakteristik manusia sangat berpengaruh pada desain dalam meningkatkan produktivitas kerja manusia untuk mencapai tujuan yang efektif, sehat, aman dan nyaman. Tujuan tersebut dapat tercapai dengan adanya pengetahuan tentang kesesuaian, kepresisian, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan manusia dalam menggunakan hasil produk desain, yang kemudian dikembangkan dalam penyelidikan di bidang ergonomi. Penyelidikan ergonomi dibedakan menjadi empat kelompok, yakni :

1)    Penyelidikan tentang tampilan/display

Penyelidikan pada suatu perangkat (interface) yang menyajikan informasi tentang lingkungan dan mengkomunikasikannya pada manusia antara lain dalam bentuk tanda-tanda, angka, dan lambang,

2)    Penyelidikan tentang kekuatan fisik manusia

Penyelidikan dengan mengukur kekuatan serta ketahanan fisik manusia pada saat kerja, termasuk perancangan obyek serta peralatan yang sesuai dengan kemampuan fisik manusia beraktivitas.

3)    Penyelidikan tentang ukuran tempat kerja

Penyelidikan ini bertujuan untuk mendapatkan rancangan tempat kerja yang sesuai dengan ukuran atau dimensi tubuh manusia.

4)    Penyelidikan tentang lingkungan kerja

Meliputi penyelidikan mengenai kondisi lingkungan fisik tempat kerja dan fasilitas kerja, misalnya pengaturan cahaya, kebisingan, temperatur, dan suara.

Berkenaan dengan penyelidikan tersebut, beberapa disiplin ilmu ergonomi yang terlibat antara lain anatomi dan fisiologi (struktur dan fungsi pada manusia), antropometri (ukuran-ukuran tubuh manusia), fisiologi psikologi (sistim syaraf dan otak manusia), dan psikologi eksperimen (perilaku manusia). Studi tentang psikologi eksperimen dalam desain diperlukan untuk mengetahui kebutuhan dimensi/ukuran tubuh manusia (misalnya saja kebiasaan, perilaku dan budaya manusia duduk, berdiri, mengambil sesuatu, dan bergerak), sehingga didapatkan ukuran yang tepat agar tidak terjadi kekeliruan data dalam perencanaan desain. Psikologi dijadikan studi karena dianggap penting untuk menelaah perilaku dan hal-hal yang dipikirkan oleh manusia sebagai pengguna desain. Seperti yang diungkapkan Ching (1987) dalam perencanaan desain mebel, manusia adalah faktor utama yang mempengaruhi bentuk, proporsi dan skala mebel. Untuk memperoleh manfaat dan kenyamanan dalam melaksanakan aktivitas, mebel harus dirancang sesuai dengan ukuran tubuh manusia, jarak bebas yang diperlukan oleh pola aktivitas dan sifat aktivitas yang dijalani.

Pengambilan data ukuran yang keliru mengakibatkan kegagalan desain, struktur dan fungsi tubuh manusia terganggu dan berubah, bahkan yang paling vital mengakibatkan terganggunya sistem otak dan saraf. Misalnya dalam perancangan desain kursi, Suparto (2003) mengungkapkan hal penting yang diperhatikan dalam perancangan yaitu memperhatikan kemampuan elemen-elemen kursi untuk menanggapi dan membentuk keseimbangan dan kestabilan pada saat orang duduk di atasnya. Pusat gravitasi tubuh pada saat duduk tegak berada sekitar 22 cm di muka dan 24 cm di atas titik acuan duduk (titik acuan duduk adalah perpotongan bidang sandaran dan alas duduk), sedangkan pada saat berdiri tegak pusat gravitasi akan berada 10 cm di depan dan sekitar 15 cm di atas titik acuan duduk. Jadi perancangan dudukan yang terlalu tinggi atau rendah akan berpengaruh buruk pada kenyamanan, mengurangi keseimbangan duduk, kelelahan pada daerah punggung khususnya tulang belakang, bahkan bahaya yang lebih besar adalah terjadinya hambatan dalam sirkulasi darah atau gumpalan darah (thrombophlebitis). Ringkasnya, ergonomi merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam perancangan desain.

Gambar 1 . Bagian sekeliling tulang dimana tubuh bertumpu pada saat

duduk (Julius Panero and Martin Zelnik, 1979)

4.1.2  Evaluasi Ergonomi Dalam Perancangan Desain

 Esensi dasar dari evaluasi ergonomi dalam proses perancangan desain adalah sedini mungkin mencoba memikirkan kepentingan manusia agar bisa terakomodasi dalam setiap kreativitas dan inovasi sebuah ‘man made object’ (Sritomo, 2000). Fokus perhatian dari sebuah kajian ergonomis akan mengarah ke upaya pencapaian sebuah perancanganan desain suatu produk yang memenuhi persyaratan ‘fitting the task to the man’ (Granjean,1982), sehingga setiap rancangan desain harus selalu memikirkan kepentingan manusia, yakni perihal keselamatan, kesehatan, keamanan maupun kenyamanan. Sama seperti yang diungkapkan Sritomo (2000), desain sebelum dipasarkan sebaiknya terlebih dahulu dilakukan kajian/evaluasi/pengujian yang menyangkut berbagai aspek teknis fungsional, maupun kelayakan ekonomis seperti analisis nilai, reliabilitas, evaluasi ergonomis, dan marketing. Untuk melaksanakan kajian atau evaluasi (pengujian) bahwa desain sudah memenuhi persyaratan ergonomis adalah dengan mempertimbangkan faktor manusia, dalam hal ini ada empat aturan sebagai dasar perancangan desain, yakni :

  • Memahami bahwa manusia merupakan fokus utama perancangan desain, sehingga hal-hal yang berhubungan dengan struktur anatomi (fisiologik) tubuh manusia harus diperhatikan, demikian juga dengan dimensi ukuran tubuh (anthropometri).
  • Menggunakan prinsip-prinsip kinesiologi dalam perancangan desain (studi mengenai gerakan tubuh manusia dilihat dari aspek biomechanics), tujuannya untuk menghindarkan manusia melakukan gerakan kerja yang tidak sesuai, tidak beraturan dan tidak memenuhi persyaratan efektivitas efisiensi gerakan.
  • Pertimbangan mengenai kelebihan maupun kekurangan (keterbatasan) yang berkaitan dengan kemampuan fisik yang dimiliki oleh manusia di dalam memberikan respon sebagai kriteria-kriteria yang perlu diperhatikan pengaruhnya dalam perancangan desain.
  • Mengaplikasikan semua pemahaman yang terkait dengan aspek psikologik manusia sebagai prinsip-prinsip yang mampu memperbaiki motivasi, attitude, moral, kepuasan dan etos kerja.

 Sumber : Laksmi Kusuma Wardani Staf Pengajar Fakultas Seni dan Desain, Jurusan Desain Interior

 Selain hal-hal tersebut di atas, unsur lain yang juga penting untuk diperhatikan dalam perancangan desain adalah hubungan antara lingkungan, manusia, alat-alat atau perangkat kerja, dengan produk fasilitas kerjanya. Satu sama lain saling berinteraksi dan memberi pengaruh signifikan terhadap peningkatan produktivitas, efisiensi, keselamatan, kesehatan, kenyamanan maupun ketenangan orang bekerja sehingga menghindarkan diri dari segala bentuk kesalahan manusiawi (human error) yang berakibat kecelakaan kerja.

Lingkungan fisik tempat kerja bagi manusia dipengaruhi antara lain oleh :

  • Cahaya, Dalam faktor cahaya, kemampuan mata untuk melihat obyek dipengaruhi oleh   ukuran obyek, derajat kontras antara obyek dan sekelilingnya, luminensi (brightness), lamanya melihat, serta warna dan tekstur yang memberikan efek  psikologis pada manusia. Mata diharapkan memperoleh cahaya yang cukup, pemandangan yang menyenangkan, menenangkan pikiran, tidak silau, dan       nyaman. Pencahayaan yang kurang dapat mengakibatkan kelelahan pada mata.
  • Kebisingan, Aspek yang menentukan tingkat gangguan bunyi terhadap manusia adalah  lama waktu bunyi terdengar, intensitas (dalam ukuran desibel/dB, besarnya      arus energi per satuan luas), dan frekuensi (dalam  Hertz/Hz, jumlah getaran per detik). Usaha-usaha pengurangan kebisingan dapat dilakukan dengan   pengurangan kegaduhan pada sumber, pengisolasian peralatan penyebab kebisingan, tata akustik yang baik/ memberikan bahan penyerap suara, memberikan perlengkapan pelindung.
  • Getaran mekanis,  Getaran mekanis dapat diartikan sebagai getaran-getaran yang ditimbulkan oleh alat – alat mekanis. Biasanya gangguan yang dapat ditimbulkan dapat mempengaruhi kondisi bekerja, mempercepat datangnya kelelahan dan menyebabkan timbulnya beberapa penyakit. Besaran getaran ditentukan oleh lama, intensitas, dan frekuensi getaran. Sedangkan anggota tubuh mempunyai frekuensi getaran sendiri sehingga jika frekuensi alami ini beresonansi dengan frekuensi getaran mekanis akan mempengaruhi konsentrasi kerja, mempercepat kelelahan, gangguan pada anggota tubuh seperti mata, syaraf, dan otot.
  • Temperatur, Temperatur yang terlalu panas akan mengakibatkan cepat timbulnya kelelahan tubuh, sedangkan temperatur yang terlalu dingin membuat gairah   kerja menurun. Kemampuan adaptasi manusia dengan temperatur luar adalah jika perubahan temperatur luar tersebut tidak melebihi 20 % untuk kondisi panas dan 35 % untuk kondisi dingin (dari keadaan normal tubuh). Dalam kondisi normal, temperatur tiap anggota tubuh berbeda-beda. Tubuh manusia bisa menyesuaikan diri karena kemampuannya untuk melakukan proses konveksi, radiasi dan penguapan. Produktivitas manusia paling tinggi pada suhu 24 – 27° C.
  • Kelembapan, Kelembapan diartikan sebagai banyaknya air yang terkandung dalam udara,biasanya dinyatakan dalam persentase. Jika udara panas dan kelembaban   tinggi, terjadi pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran dan denyut jantung makin cepat.
  • Warna,  Permainan warna dalam desain memberi dampak psikologis bagi pengamat dan pemakainya, misalnya warna merah memberi kesan merangsang, kuning  memberi kesan luas dan terang, hijau atau biru memberi suasana sejuk dan      segar, gelap memberi kesan sempit, permainan warna-warna terang memberi kesan luas.

Karena warna merupakan suatu aspek penting dalam   pembangunan sebuah desain interface. Warna diyakini memberikan banyak kontribusi bagi kenyamanan interaksi user dengan antar muka yang dipergunakannya. Oleh karena itu pihak programmer sudah sewajibnya memperhatikan aspek psikologi pemakaian warna dalam perancangan desain interface aplikasi yang dibuatnya. Berikut ini merupakan tabel komposisi kombinasi warna pada desain interface, mulai dari komposisi warna yang terbaik hingga komposisi warna terburuk dalam hubungannya dengan aspek psikologis user.

Background Garis dan Teks (Normal) Garis dan Teks (Tebal)
Putih Biru (94%), Hitam (63%), Merah (25%) Hitam (69%), Biru (63%), Merah (31%)
Hitam Putih (75%), Kuning (63%) Kuning (69%), Putih (59%), Hijau (25%)
Merah Kuning (75%), Putih (56%), Hitam (44%) Hitam (50%), Kuning (44%), Putih (44%), Cyan (31%)
Hijau Hitam (100%), Biru (56%), Merah (25%) Hitam (69%), Merah (63%), Biru (31%)
Biru Putih (81%), Kuning (50%), Cyan (25%) Kuning (38%), Magenta (31%), Hitam (31%), Cyan (31%), Putih (25%)
Cyan Biru (69%), Hitam (56%), Merah (37%) Merah (56%), Biru (50%), Hitam (44%), Magenta (25%)
Magenta Hitam (63%), Putih (56%), Biru (44%) Biru (50%), Hitam (44%), Kuning (25%)
Kuning Merah (63%), Biru (63%), Hitam (56%) Merah (75%), Biru (63%), Hitam (50%)

Tabel 1. komposisi kombinasi warna terbaik

Background Garis dan Teks (Normal) Garis dan Teks (Tebal)
Putih Kuning (100%), Cyan (94%) Kuning (94%), Cyan (75%)
Hitam Biru (87%), Merah (44%), Magenta (25%) Biru (81%), Magenta (31%)
Merah Magenta (81%), Biru (44%), Hijau & Cyan (25%) Magenta (69%), Biru (50%), Hijau (37%), Cyan (25%)
Hijau Cyan (81%), Magenta (50%), Kuning (37%) Cyan (81%), Magenta & Kuning (44%)
Biru Hijau (62%), Merah & Hitam (37%) Hijau (44%), Merah & Hitam (31%)
Cyan Hitam (81%), Kuning (75%), Putih (31%) Kuning (69%), Hijau (62%),  Putih (56%)
Magenta Hijau (75%), Merah (56%), Cyan (44%) Cyan (81%), Hijau (69%), Merah (44%)
Kuning Putih & Cyan (81%) Putih (81%), Cyan (56%), Hijau (25%)

Tabel 2. Komposisi kombinasi warna terburuk

Beberapa hal penting lain dalam Psikologi Warna yang harus diperhatikan antara lain adalah :

  • Hindarkan penggunaan kombinasi warna yang melelahkan mata, seperti cyan, magenta, kuning secara bersama.
  • Untuk pemakaian user pada usia tua, sebaiknya mempergunakan warna yang tajam.
  • Menghindarkan penggunaan warna merah dan hijau dalam skala besar pada tempat berseberangan. Dalam hal ini perpaduan yang terbaik adalah biru dengan kuning.
  • Kombinasi warna hijau dan biru secara psikologis menimbulkan citra yang jelek. Warna berlawanan yang dapat dipergunakan bersama adalah biru–kuning dan hijau-merah.
  • Hindarkan penggunaan warna tunggal untuk menolong pengguna yang mempunyai keterbatasan dalam melihat warna.

Sumber :  http://www.beritanet.com/Literature/Tutorial/psikologi-warna-design-interface.html

Selain hal-hal tersebut di atas, kemampuan untuk meningkatkan produktivitas kerja manusia dipengaruhi pula oleh sikap, gerakan, aktivitas, struktur fisik tubuh manusia, struktur tulang, otot rangka, sistem saraf dan proses metabolisme. Sikap yang tidak tepat menyebabkan gangguan, stress, rasa malas bekerja, ketidaknyamanan dan kelelahan (kelelahan pada seluruh tubuh, mental, urat syaraf, bahkan menyebabkan rasa sakit dan kelainan pada struktur tubuh manusia. Aktivitas kerja manusia, baik fisik maupun mental mempunyai tingkat intensitas yang berbeda. Intensitas tinggi berarti energi tinggi, intensitas rendah berarti energi rendah. Mengeluarkan energi dalam jumlah besar untuk periode yang lama bisa menimbulkan kelelahan fisik dan mental, sedangkan kelelahan mental lebih berbahaya dan kadang-kadang menimbulkan kesalahan-kesalahan kerja yang serius. Selain itu, posisi tubuh yang tidak alami atau sikap yang dipaksakan berakibat pada pengurangan produktivitas manusia, hal ini berkaitan dengan dengan sejumlah tenaga yang harus dikeluarkan akibat beban tambahan.

 Bagas (2000) mengatakan, apabila antara manusia (pemakai) dan kondisi hasil desain yang sifatnya fisik atau mekanismenya tidak aman, itu berarti terjadi ketidakmampuan pelaksanaan fungsi secara baik, sehingga berakibat pada kesalahan manusiawi (human errors), kegagalan akhir pada desain yang tidak baik, kesulitan dalam produksi, kegagalan produk, bahkan menimbulkan kecelakaan kerja. Hal yang sama diungkapkan oleh Cormick dan Sanders (1992) ‘ it is easier to bend metal than twist arms’, yang bisa diartikan merancang produk untuk mencegah terjadinya kesalahan akan jauh lebih mudah bila dibandingkan mengharapkan orang atau operator jangan sampai melakukan kesalahan pada saat mengoperasionalkan produk tersebut. Memperhatikan hal tersebut, diperlukan pengetahuan dan penyelidikan tentang ketepatan atau kepresisian, kesesuaian, kesehatan, keselamatan, keamanan dan kenyamanan manusia dalam bekerja. Faktor perbedaan ukuran atau postur dan berat badan manusia, kebiasan, perilaku, sikap manusia dalam beraktivitas, serta kondisi lingkungan juga memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia antara lain umur, jenis kelamin (dimensi tubuh laki-laki umumnya lebih besar dari wanita), suku bangsa, dan posisi tubuh. Sedangkan dalam perancangan desain, pertimbangan ergonomi yang nyata dalam aplikasinya untuk mendapatkan data ukuran tubuh yang akurat menggunakan pengukuran antropometri.

Gambar 2. Bentuk tulang punggung dilihat dari sikap duduk ;

(a) Normal (Kelenturan normal/alami, tidak ada tekanan pada cakram tulang belakang

(b) Kifosis (tulang punggung terlalu bengkok kebelakang, cakram terjepit),

(c) Lordosis (tulang punggung bengkok ke depan, cakram terjepit),

(d) Skoliosis (tulang punggung bengkok ke kiri dan kanan, cakram terjepit) (B. Suparto, 1996)

5. 1 Antropometri

5.1.1  Pengertian Antropometri

Antropometri adalah pengetahuan yang menyangkut pengukuran tubuh manusia khususnya dimensi tubuh. Antropometri dibagi atas dua bagian, yaitu:

1)    Antropometri statis, dimana pengukuran dilakukan pada tubuh manusia yang berada dalam posisi diam. Dimensi yang diukur pada Anthropometri statis diambil secara linier (lurus) dan dilakukan pada permukaan tubuh. Agar hasil pengukuran representatif, maka pengukuran harus dilakukan dengan metode tertentu terhadap berbagai individu, dan tubuh harus dalam keadaan diam.

2)     Antropometri dinamis, dimana dimensi tubuh diukur dalam berbagai posisi tubuh yang sedang bergerak, sehingga lebih kompleks dan lebih sulit diukur.   Terdapat tiga kelas pengukuran dinamis, yaitu:

a)    Pengukuran tingkat ketrampilan sebagai pendekatan untuk mengerti keadaan mekanis dari suatu aktivitas.  Contoh: dalam mempelajari performa atlet.

b)     Pengukuran jangkauan ruangan yang dibutuhkan saat kerja.      Contoh: Jangkauan dari gerakan tangan dan kaki efektif saat bekerja yang   dilakukan dengan berdiri atau duduk.

c)    Pengukuran variabilitas kerja. Contoh: Analisis kinematika dan kemampuan jari-jari tangan dari seorang juru ketik atau operator komputer

5.1.2 Pengukuran Antropometri

Pengukuran antropometri ada 2 tipe yaitu pertumbuhan, dan ukuran komposisi tubuh yang dibagi menjadi pengukuran lemak tubuh dan massa tubuh yang bebas lemak. Penilaian pertumbuhan merupakan komponen esensial dalam surveilan kesehatan anak karena hampir setiap masalah yang berkaitan dengan fisiologi, interpersonal, dan domain sosial dapat memberikan efek yang buruk pada pertumbuhan anak. Alat yang sangat penting untuk penilaian pertumbuhan adalah kurva pertumbuhan (growth chart) pada gambar terlampir, dilengkapi dengan alat timbangan yang akurat, papan pengukur, stadiometer dan pita pengukur.

Langkah-langkah Manajemen Tumbuh Kembang Anak

  • Pengukuran antropometri : berat, tinggi, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar  lengan, tebal kulit.
  • Penggunaan kurva pertumbuhan anak (KMS,NCHS)
  • Penilaian dan analisa status gizi & pertumbuhan anak
  • Penilaian perkembangan anak, dan maturasi
  • Intervensi (preventif, Promotif, Kuratif, Rehabilitatif).

Perlu ditekankan bahwa pengukuran antropometri hanyalah satu dari sejumlah teknik-teknik yang dapat untuk menilai status gizi. Pengukuran dengan cara-cara yang baku dilakukan beberapa kali secara berkala pada berat dan tinggi badan, lingkaran lengan atas, lingkaran kepala, tebal lipatan kulit (skinfold) diperlukan untuk penilaian pertumbuhan dan status gizi pada bayi dan anak.

  • Berat dan Tinggi Badan terhadap umur :
  1. Pengukuran antropometri sesuai dengan cara-cara yang baku, beberapa kali secara berkala misalnya berat badan anak diukur tanpa baju, mengukur panjang bayi dilakukan oleh 2 orang pemeriksa pada papan pengukur (infantometer), tinggi badan anak diatas 2 tahun dengan berdiri diukur dengan stadiometer.
    1. Baku yang dianjurkan adalah buku NCHS secara Internasional untuk anak usia 0-18 tahun yang dibedakan menurut jender laki-laki dan wanita.
    2. Cara canggih yang lebih tepat untuk menetapkan obesitas pada anak dengan kalkulasi skor Z (atau standard deviasi) dengan mengurangi nilai berat badan yang dibagi dengan standard deviasi populasi referens. Skor Z =atau > +2 (misalnya 2SD diatas median) dipakai sebagai indikator obesitas.
  • Lingkar kepala, lingkar lengan, lingkaran dada diukur dengan pita   pengukur yang tidak molor. Baku Nellhaus dipakai dalam menentukan lingkaran kepala (dikutip oleh Behrman, 1968). Sedangkan lingkaran lengan menggunakan baku dari Wolanski, 1961 yang berturut-turut diperbaiki pada tahun 1969.
  • Tebal kulit di ukur dengan alat Skinfold caliper pada kulit lengan, subskapula dan daerah pinggul., penting untuk menilai kegemukan. Memerlukan latihan karena sukar melakukannya dan alatnyapun mahal (Harpenden Caliper).

Penggunaan dan interpretasinya yang terlebih penting.

Sumber :  Moersintowarti B.Narendra. Divisi Tumbuh kembang Anak dan Remaja  FK Unair /RSU Dr. Soetomo Surabaya.

5.1.3  Pengukuran Bentuk Tubuh                 

Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui bentuk tubuh manusia, sehingga dirasakan nyaman dan menyenangkan. Terdapat 5 tingkat kenyamanan, yaitu:

  1. Ketidaknyamanan/ sakit yang tidak tertahankan.
  2. sakit yang masih bisa ditahan 3 – sakit 2 – kematian rasa 1 – sensasi yang dirasakan 0 – tidak ada sensasi Misalnya kita akan mengukur tingkat kenyamanan suatu kursi, maka untuk menentukan terjadinya sensasi tersebut, terdapat 9 titik penting pertemuan antara badan dengan kursi yang menentukan kenyamanan, yaitu:
    1. daun pundak (bagian yang paling menonjol dari tulang belikat)
    2.  dasar pundak
    3.  daerah punggung yang melengkung
    4.  daerah lengkungan pinggang
    5.  pantat
    6.  pantat paling bawah
    7.  pangkal paha
    8.  pertengahan paha
    9.  ujung paha


Pada saat duduk dengan kecenderungan posisi siswa adalah:

  1. jaringan otot leher (leher dipaksakan menegakkan tulang lehernya, dengan     menahan berat kepala yang ditekuk mendekati sudut 30o, untuk proses menulis dan membaca, sehingga sistem jaringan otot leher mengalami ketegangan, karena harus menahan berat kepala.

Gambar 5. Posisi Kepala dan Leher Siswa SD Saat Proses Belajar
(sumber : google)

  1. jaringan otot punggung (jaringan otot tulang belakang dipaksakan duduk tanpa disanggah bantal punggung (back supporting chair), sehingga sistem jaringan otot tulang belakang mengalami peregangan berlebihan untuk menahan beban berat tubuh bagian atas.

Gambar 6.  Posisi Tulang Belakang Siswa SD Saat Proses Belajar Tanpa Bersandar

Pada Pungung Kursi (Sumber : Google)

  1. sistem jaringan otot bahu, lengan dan jari tangan yang dipaksa untuk melakukan kegiatan menulis dan membaca dimana jarak antara kursi dengan meja bisa terlalu tinggi (murid terpaksa menaikkan lengannya untuk kegiatan ini, sehingga terjadi peregangan otot disekitar bahu lengan dan jari tangan).

Gambar 7.  Posisi Lengan Atas dan Bawah Siswa SD Saat Proses Belajar

(Sumber : Google)

  1. sistem jaringan otot kaki, dimana kondisi kaki murid bisa menggantung karena kursi terlalu tinggi, sehingga sistem jaringan otot kaki mengalami ketegangan akibat membawa beban kaki.

Gambar 8.  Posisi kaki Siswa SD Saat Proses Belajar

(Sumber : Google)

6.1  Rancangan Kursi Ergonomis

 

6.1.1  Rancangan Kursi Kerja Secara Umum

Didalam melakukan perancangan kursi kerja kita harus tetap memperhatikan ukuran antopometri sebagai dasar untuk melakukan desain dan memperhatikan kegiatan/ jenis pekerjaan menulis dan membaca, misalnya jarak meja dengan mata, leher, lengan, lutut pekerja, tulang belakang dan yang lainnya, Kriteria dalam melakukan desain terhadap kursi kerja

diantaranya :

  1. Tinggi kursi sebaiknya dirancang sesuai dengan ketinggian alas duduk
  2. Dari segi kekuatan sebaiknya kursi kerja dirancang sedemikian rupa agar kuat dan serasi dengan menekankan kekuatan pada bagian-bagian yang mudah retak dan sebaiknya dilengkapi dengan sistem mur baut ataupun keling pasak.
  3. Sandaran punggung (belakang) ini akan membantu dalam menjaga jaringan otot tulang belakang dan keseimbangan posisi duduk. Dalam pendesainan diharapkan sedapat mungkin sandaran punggung ini disesuaikan/ mendekati kontur tulang belakang. Sandaran punggung ini didasarkan pada ukuran lebar punggung dengan faktor kelonggaran tertentu.
  4. Ketinggian sandaran punggung disesuaikan dengan ukuran tinggi siku duduk dengan persentile 95 %.
  5. Lebar kursi ditentukan dengan maksud untuk memberikan penyangga pada pinggul sehingga perlu dibuat agak lebar untuk memberikan perasaan nyaman pada pemakainya. Lebar kursi ini diukur dari tepi pinggul ke tepi lainnya dengan menambah kelonggaran dari ketebalan pakaian.
  6. Panjang alas duduk diharapkan tidak mengganggu/ menghambat aktifitas yang dilakukan oleh pengguna kursi.
  7. Bahan yang digunakan dalam desain kursi ini diharapkan adalah bahan yang mudah dibentuk sesuai dengan desain yang telah dirancang disamping itu bahan juga harus yang mudah didapatkan, tetapi juga harus tetap diperhatikan faktor kekuatannya. Untuk tempat duduk dan sandaran punggung sedapat mungkin diberi material yang cukup lunak dengan harapan dapat mengurangi kelelahan / menghambat segera munculnya rasa lelah dan capek.

6.1.2  Akibat Yang Ditimbulkan Dari Desain Kursi Yang Tidak Ergonomis

 Desain kursi yang tidak sesuai dengan dimensi tubuh pemakainya (tidak ergonomis) akan membawa pengaruh yang kurang baik bagi pemakainya itu sendiri yang pada akhirnya akan berpengaruh pada efektifitas dan efisiensi kerja mereka. Akibat dari desain kursi yang tidak ergonomis ini antara lain :

  • Alas kursi yang terlalu pendek akan menimbulkan tekanan pada pertengahan  Paha.

Gambar 9. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Pendek

(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

  • Begitu juga alas tempat duduk yang terlalu panjang juga tidak ergonomis karena berakibat adanya tekanan pada pertemuan betis dan paha atau lipatan lutut sehingga hal ini akan memberikan ketidaknyamanan pada pemakainya.

Gambar 10. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Lebar

                          (Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

  • Dan apabila alas tempat duduk terlalu rendah akan menimbulkan kelelahan pada tungkai sehingga cenderung mendorong badan ke belakang yang berakibat timbulnya tekanan pada pinggang.

Gambar 11. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Sempit

(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

  • Alas tempat duduk yang terlalu tinggi juga tidak baik bagi pemakainnya karena hal ini mengakibatkan tekanan pada telapak kaki, seperti ditunjukkan.

Gambar 12. Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Tinggi

(Sumber : Julius Panero, 1980 : 64)

7.1  sejarah kursi

Kursi yang merupakan salah satu perabot tertua dan utama di masyarakat sekarang, baru umum dipakai pada abad XVII. Saat itu kursi merupakan simbol kekuasaan dan martabat. Kebanyakannya duduk dia atas dingklik (bangku kecil), bangku panjang, atau peti kayu. Masyarakat Mesir Kuno (3110-1070 SM) juga berpendapat sama. Ujung kaki itu biasanya serupa kaki binatang, lengkap dengan cakar atua kukunya. Bahannya mahak, entah itu kayu hitam, gading, atau kayu berlapis emas., diukir atu dicat cerah, lalu dibalut kain mahal atau kulit binatang.

Serupa dengan Mesir, pada masyarakat Yunani kuno, (110-400 SM), kursi menentukan status sosial pemiliknya. Namun, bangsa itu sempat menorehkan prestasi dengan menemukan model kursi cantik, klysmos. Kursi tanpa tangan ini berbentuk khas, dua kaki depannya melengkung seperti huruf C menganga ke depan, sebaliknya, dua kaki belakangnya seperti hurup C menghadap ke belakang. Sandarannya pun melengkung. Akibatnya, dari samping kursi itu bersiluet S. Kursi yang dudukannya terbuat dari dudukan tali itu ngetrend kembali pada awal abad XIX dan XX. Bangsa Romawi kuno (700-400 SM) lain lagi, walaupun banyak meniru gaya Yunani, mereka memiliki cirri tersendiri dengan lebih banyak menggunakan perunggu dan perak. Klysmos ala Romawi lebih besar dan berat serta diberi jok empuk. Bangsa Romawi berhasil mengembangkan dingklik menjadi curule. Bangku yang sering diduduki hakim ini memiliki dua pasang kaki. Tiap pasangnya gabungan dua kaki belakang atau depan. Kaki-kaki itu saling silang membentuk huruf X.

Curule biasanya dari gabungan kayu dengan gading atu logam yang dicor. Mode curule bertahan sampai Abad Pertengahan (400-1300 M). Susulannya adalah kursi dengan sandaran, panel samping yang tinggi, atau kanopi dari kain damask atau beludru. Panel dan kanopi itu sebagai penangkal tiupan angin dingin. Di Jepang, India, dan Cina -terutama pada Dinasti Han (202-200 SM)- telah dihasilkan perabot oriental yang bernilai seni tinggi. Pengrajin Cina terampil menyambung antarbagian tanpa paku atau pasak, dan jarang sekali menggunakan lem. Caranya, ujung-ujung di bagian sambungan dipahat dengan sangat terampil, sehingga bisa masuk satu sama lain. Di Abad Pertengahan keterampilan orang Eropa dalam membuat perabot merosot tajam. Untuk menutupi ketidakterampilannya, pengrajin mengecatnya atu melapisinya dengan emas. Kain pelapis dan jok mulai dikenal pada abad XVI, tapi baru akhir abad XVII dan awal abad XVIII digunakan secara umum. Pada saat berbarengan, lahir kursi santai dengan bagian dudukan, sandaran punggung, dan tangan yang diganjal dan dilapisi kain (kadang ditambah tirai anti-angin). Kain pelapis biasanya dari wol, kain bersulam, atau bahan permadani. Sutera dan beludru yang sangat mahal namun mudah rusak, hanya diigunakan orang kaya.

Abad XIX, kursi merefleksikan pesatnya perkembangan teknologi. Tahun 1928 Samuel Pratt mematenkan kursi buatannya yang pertama kali menggunakan pegas dari kawat besi atau baja. Ketika diterapkan pada kursi santai,.Perancang Inggris William Moris merancang kursi Morris denga sandaran yang dapat direbahkan, awal dari teknologi reclining. Pada abad ke-20, plastik dikenal sebagai materi baru untuk kursi. Plastik memang sangat fleksibel untuk segala hal.

sumber : http://derizal.blogspot.com/2008/05/sejarah-kursi.html

Ditinjau dari sejarahnya, kursi sebagai fasilitas duduk bukan berakar dari budaya Nusantara. Ini dapat dibuktikan lewat artefak-artefak kuno, misalnya watu gilang di Kotagede yang merupakan singgasana (”dampar”) Istana Panembahan Senopati berwujud sebongkah batu persegi. Kalangan rakyat jelata hanya mengenal balai-balai yang masih banyak dijumpai hingga kini di desa-desa. Baik dampar maupun balai-balai berbeda dari kursi dalam konsep filosofis, perwujudan bentuk, maupun struktur teknisnya. Budaya penggunaan fasilitas duduk berupa kursi baru masuk ke Nusantara sejak adanya interaksi dengan bangsa Barat. Itu pun masih terbatas sebagai simbol status kaum bangsawan, birokrat kolonial, dan saudagar besar; sama halnya dengan sejarah perkembangan kursi itu sendiri yang awalnya digunakan bangsa Mesir kuno untuk meninggikan wibawa penguasa. Kursi sebagai fasilitas duduk baru berkembang menjadi produk massal lintas negara dan budaya sejak Revolusi Industri di Inggris. Waktu itu kursi-kursi bergaya klasik yang lebih berfungsi sebagai simbol status namun kurang nyaman dan fungsional mulai ditinggalkan. Kursi modern yang didesain dengan pertimbangan kenyamanan dari segi ergonomi, fungsional dari segi bentuk, dan ekonomis dari segi produksi berkembang pesat dan diminati banyak orang. Contoh kursi modern yang diproduksi massal waktu itu adalah desain karya Michael Thonet yang sukses menembus pasar dunia. Kesuksesan desain kursi modern ini sekaligus mematahkan batas budaya antar bangsa. Dengan latar belakang sejarah tersebut di mana kursi pada hakikatnya tidak berakar dari budaya Nusantara, sesungguhnya merupakan dua hal yang tidak relevan, bahkan kontradiktif antara ide mengemas budaya Nusantara dan desain kursi sebagai perwujudannya. Namun demikian, justru di sinilah pintu masuk sebuah kreativitas.

7.1.1  Citra budaya

Kursi modern yang didesain dengan pendekatan rasional di satu sisi dapat diterima secara luas oleh setiap orang dengan latar belakang budaya beragam karena kursi modern dapat memenuhi kebutuhan akan rasa nyaman dan sisi ekonomis. Namun, satu hal yang terabaikan adalah hilangnya nilai citra dari kursi. Padahal sesuai sejarah perkembangannya, kursi lahir untuk memenuhi kebutuhan akan citra. Dalam konsep desain modern, citra sebuah kursi justru diyakini akan muncul dari fungsi, kenyamanan, dan nilai ekonomis itu sendiri. Hal ini yang kemudian melahirkan apa yang disebut dengan ”kitsch” atau selera budaya massal yang rendah karena desain kursi modern kemudian memunculkan citra homogen yang berstandar baku pada fungsi, kenyamanan, dan nilai ekonomis saja. Dari sinilah kemudian baru bisa disadari bahwa dalam mendesain kursi mestinya juga harus dipertimbangkan faktor citra yang digali untuk melengkapi fungsi, kenyamanan, dan nilai ekonomis. Kursi dapat menampilkan citra tertentu apabila didesain dengan karakteristik khas, baik pada segi bentuk, bahan, teknik konstruksi, teknik produksi hingga teknik finishing. Semua hal tersebut dapat diolah untuk memunculkan banyak model desain yang masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Pengolahan terhadap bentuk dapat dipengaruhi latar belakang budaya rupa yang berbeda-beda pada tiap kelompok masyarakat. Penggunaan bahan dapat dipengaruhi perbedaan lingkungan alam yang menyediakan beragam jenis bahan. Penerapan teknik konstruksi dapat dipengaruhi keragaman jenis dan sifat bahan yang digunakan. Penerapan teknik produksi dapat dipengaruhi oleh keragaman tingkatan teknologi yang dikuasai. Penerapan teknik finishing dapat dipengaruhi keragaman kondisi iklim atau lingkungan termal serta peruntukan kursi. Keragaman dalam banyak faktor tersebut apabila diformulasikan secara tepat ke dalam desain kursi akan dapat memunculkan citra budaya yang khas, cerminan hasil pemikiran untuk mengolah sumber daya alam dan lingkungan secara cermat.

7.1.2  Budaya Nusantara

Dengan munculnya kesadaran akan realitas pluralitas budaya pada masyarakat postmodern, maka keyakinan paham modern akan universalitas yang dalam konteks desain diartikan sebagai selera massal yang homogen telah berakhir. Masyarakat dunia saat ini kembali mencari citra budaya sebagai wujud apresiasi terhadap nilai-nilai pluralitas. Oleh karena itu, sudah semestinya kita juga kembali mencari citra budaya bangsa kita. Mencari citra budaya dalam lingkup sempit untuk diwujudkan dalam desain kursi berarti merupakan upaya menggali ide dari unsur budaya Nusantara. Dalam metodologi desain, upaya menggali ide dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain melalui metode transformasi dan metode interpretasi. Dengan metode transformasi, ide desain diambil langsung dari pengamatan wujud fisik budaya untuk ditransformasikan ke dalam wujud desain kursi. Sementara dengan metode interpretasi, maka ide desain diambil dari pemaknaan nilai-nilai budaya untuk diinterpretasikan kembali ke dalam wujud desain kursi. Baik metode transformasi maupun interpretasi keduanya dapat saling melengkapi. Ide yang telah tergali kemudian dapat diwujudkan ke dalam pengolahan bentuk, pemilihan bahan, penerapan teknik konstruksi, teknik produksi, hingga teknik finishing. Dengan demikian, desain kursi mengandung unsur budaya Nusantara, baik lewat transformasi bentuk maupun interpretasi nilai budaya. Dari sini desain kursi akan dapat memancarkan citra budaya Nusantara. Hal ini berbeda dari sekadar menghadirkan kembali model-model etnik ”bersifat eklektik, yaitu mencampuradukkan bentuk-bentuk lama atau tradisional” karena proses penggalian ide diintegrasikan ke dalam pola pikir modern yang rasional. Melalui pengolahan bentuk, penggunaan bahan, penerapan teknik konstruksi, teknik produksi, hingga teknik finishing yang tepat faktor fungsi, kenyamanan, dan nilai ekonomis tetap dapat dipertahankan. Dengan demikian citra budaya Nusantara merupakan nilai tambah dalam desain kursi. Pada akhirnya kursi sebagai fasilitas duduk yang pada hakikatnya tidak berakar dari budaya Nusantara dapat diolah dengan daya kreativitas sehingga citra budaya Nusantara dapat dimunculkan di dalamnya dalam kemasan baru sesuai perkembangan zaman.

sumber : Adi Santosa Dosen Jurusan Desain Interior Universitas Kristen Petra, Surabaya

8.1  Analisa Aktivitas

No

Aktivitas menggunakan perabot ( bangku/ meja)

permasalahan

Kebutuhan

keterangan

1.

Membuat berbagai bentuk dengan menggunakan karton, kertas minyak

Anak lupa membersihkan karena sisa-sisa kertas berhamburan

Menggunakan wadah/sarana untuk menyimpan dan membersihkannya.

2.

Menggambar, mewarnai, menulis

Meja tidak jarang kena coretan, Alat tulis berhamburan dan sering terjatuh

Menggunakan bahan yangmudah dibersihkan, menggunakan sarana/wadah untuk tempat penyimpanan

Adanya wadah/sarana memudahkan anak untuk menyimpan alat tulis anak.

3.

Menyimpan barang

( tas, buku, mainan, bekal )

Barang sering berantakan dan tidak tertata dengan rapih, Anak sering tertukar tempat menyimpan sehingga tidak jarang berebutan tempat.

Dibutuhkan sarana/wadah untuk menyimpan barang barang dengan volume yang sesuai,

Setiap sekolah harus memiliki sarana seperti lemari untuk menyimpan barang bawaan dan peralatan lainnya.

4.

Menempel kertas dengan pola

Meja cepat kotor terkena lem, media/sarana sering berhamburan.

Meja yang mudah dibersihkan, wadah/sarana untuk menyimpan media.

Aktivitas ini sangat rawan dengan kotor, anak sering usil  membersihkan sisa lem di perabot.

5.

Kegiatan praktik non alat peraga yang dilakukan didalam kelas

 ( bernyanyi, membuat sajak dengan ekspresi, dan aktivitas yang dilakukan tanpa menggunakan meja,kursi).

Tidak semua sekolah memiliki banyak ruang sehingga kegiatan lebih dimaksimalkan didalam kelas, Pada saat memindahkan meja tidak tahu untuk menaruhnya, dan Berisik saat memindahkan meja.

Disediakan tempat khusus untuk menyimpan meja dan kursi, Perabot yang mudah dipindahkan / bisa dialih fungsikan menjadi sarana yang menunjang.

Tingkatan golongan anak sekolah dasar berbeda-beda sehingga fasilitas seperti ruang menjadi variatif/ berbeda-beda.

Kesimpulan berdasarkan analisa aktivitas adalah dibutuhkannya suatu sarana/wadah untuk menunjang segala aktivitas anak didalam kelas, dan juga perabot (bangku/meja) yang bisa dialih fungsikan menjadi sarana yang menunjang.

Dimana fungsi bangku tersebut antara lain:

  • Untuk menyimpan buku, tas, mainan, dan alat tulis anak.

Dimana untuk membangun melatih kedisiplinan anak untuk lebih teratur dalam menstimulasi motorik kasar dan halus untuk lebih peka terhadap lingkungan yang rapih dan bersih.

  • Untuk tingkatan kenyamanan dalam proses belajar

Hal ini menunjukkan, bahwa dalam menjalani aktivitas hariannya, anak-anak sama seperti kita orang dewasa, mereka juga membutuhkan kursi dan meja yang baik dan nyaman.  Pepatah ergonomi perkantoran bilang, karyawan yang nyaman, adalah karyawan yang produktif, hal ini sebetulnya juga berlaku bagi anak, yaitu menjadi, anak yang nyaman, adalah anak yang produkif.

  • Untuk menyelaraskan ruang

dimana produk ini dapat disusun dengan mudah dan ringan dipindahkan sesuai dengan karakrater anak.

  • Untuk menyeimbangkan psikologis anak pada produk.

Dimana untuk mengedapankan pertumbuhan perkembangan fisik anak, karena menterjemahkan antara keseimbangan produk dan fisik anak adalah menentukan proses belajar dikelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: